Kemajuan Online = Kemunduran Verbal?

Hari ini, dunia online merupakan suatu hal yang sangat lumrah. Kita bisa menghitung berapa banyak waktu yang kita habiskan di depan komputer dibanding duduk bersama dan mengobrol dengan keluarga atau teman sebaya. Dunia sudah terhubung dengan internet, tanpa bertatap muka pun orang sudah bisa melakukan komunikasi melalui dunia maya. Bahkan kini, anak SD pun sudah melek internet entah untuk berselancar di facebook ataupun bermain game secara online. Berkenalan dengan teman baru melalui dunia maya yang memiliki kesamaan hobi.
Permasalahan mulai muncul ketika kita sudah terlalu asyik dengan dunia maya hingga melupakan dunia nyata dimana kita sebenarnya berada. Sudah muncul fenomena dimana anak menjadi cenderung acuh dalam bersopan santun atau bertata krama dan cenderung pendiam, serta hanya peduli pada dunianya sendiri. Karena semuanya sudah serba tersedia di dunia online. Teman dan informasi. Saya sendiri juga sekarang kerap melihat anak-anak yang sudah asyik dengan gadget di tangannya tidak peduli dengan lingkungan sekitar, bahkan ketika mungkin ada kenalan orangtua datang dan disuruh menyapa, si anak hanya melengos dan tidak menyapa kerabat sang ortu. Sudah begitu, orangtua sekarang pun tidak memaksa anaknya untuk bersikap sopan pada tamu, hanya membiarkannya begitu saja. Jika budaya seperti ini dibiarkan, lama-lama generasi mendatang bisa menjadi orang yang individualis.
Saya pernah membaca sebuah artikel yang membahas tentang masalah ini dalam suatu aplikasi berjudul For Today App Grade, sebuah aplikasi facebook dari Wall Street Institute untuk mengasah reading comprehension. Dalam aplikasi tersebut ada sebuah artikel yang berjudul Online Life Can Teach Us About The Office. Izinkan saya mengutip beberapa paragraf yang ditulis oleh Lucy Kellaway itu:

I had a conversation with a young man who not only has never shared sandwiches with his colleagues, he has never even met them. He doesn’t talk to them on the phone either. Instead, Jamie Holmes interacts with his colleagues by text message and email. He doesn’t think this is strange at all. He and his team get along well. They trust each other. They believe in their project and want to help their employer, an online strategy video game developer. But he says he’s not interested in meeting any of them. 

 If many others are like him, this is a huge change. It means that virtual working might really happen one day, and workplaces and business travel may really vanish. 

 Most young people use text messages and Facebook, and many also spend hours playing video games with complete strangers. While at their computers, four incredible things happen. First, they become very optimistic wanting to win. Second, they become good friends because people who play together usually like and trust each other. Third, they are happy to sit and work for hours. And finally it gives them an important goal. These are exactly the things that make for a perfect employee – an optimistic, idealistic team worker who is happy to work hard all day and all night.”

Terjemahannya kurang lebih seperti ini:

“Saya pernah berbincang dengan seorang pemuda yang bukan saja tidak pernah berbagi sandwich dengan koleganya, dia bahkan tidak pernah bertemu dengan mereka. Dia tidak berbicara pada mereka melalui telepon juga. Malahan, Jamie Holmes berinteraksi dengan kolega-koleganya melalui sms dan e-mail. Dia tidak merasa dirinya aneh sama sekali. Dia dan timnya bekerjasama dengan baik. Mereka saling percaya. Mereka percaya diri terhadap proyeknya dan ingin membantu perusahaannya, sebuah pengembang strategi online untuk video game. Tapi dia bilang dia tidak tertarik untuk bertemu satupun dari perusahaan tersebut. 

Jika banyak orang yang seperti dia, ini akan menjadi suatu perubahan besar. Ini berarti bahwa bekerja secara virtual dapat mungkin terjadi suatu hari nanti, dan kantor dan bisnis travel bisa punah. 

Banyak masyarakat muda kini menggunakan sms dan facebook, dan banyak yang menghabiskan berjam-jam bermain game video dengan orang yang benar-benar asing. Ketika tengah asyik dengan komputernya, 4 hal istimewa tengah terjadi. Pertama, mereka menjadi sangat optimis untuk menang. Kedua, mereka menjadi teman baik karena orang yang bermain bersama biasanya saling suka dan percaya. Ketiga, mereka bahagia hanya dengan duduk berjam-jam. Dan terakhir, kegiatan tersebut memberikan mereka sebuah gol penting. Semua ini adalah hal-hal yang dapat membuat seorang karyawan sempurna – seorang yang optimis, pekerja tim idealistis yang bahagia untuk bekerja siang dan malam.”

Dengan adanya fenomena ini, keasyikan dengan dunia online mungkin dapat membuat kemampuan non-verbal seseorang meningkat, dalam artian kemampuannya menulis. Karena kondisi yang tidak memungkinkan orang berhadapan langsung, jadi pesan yang ingin disampaikan harus dapat ditulis sebaik mungkin agar dapat dimenerti pembaca. Sayangnya, kelebihan tersebut akan berimbang dengan menurunnya kemampuan komunikasi verbal seseorang. 
Bagaimana pendapat Anda?
Advertisements

Thank you for reading! Feel free to put your comment below

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s