LDR: Lanjutkan atau Sudahi?

Long Distance Relationship atau hubungan jarak jauh, menurut saya bisa diklasifikasikan ke dalam 2 jenis:
1. Hubungan yang sedari awal perkenalan hingga ke jenjang berikutnya terjadi dalam bentuk jarak jauh, baru bersatu setelah menikah dan salah satu pihak mengikuti pasangannya ke tmpat lain.
2. Hubungan dimana perkenalan dan kemudian memutuskan untuk merajut kasih terjadi dalam tempat yang sama, tapi kemudian harus berpisah sementara karena salah satu pihak harus pindah ke tempat lain. Entah karena tugas kerja, studi di luar, dll.
Menyikapi LDR tentu berbeda-beda bagi setiap orang. Untuk saya pribadi, saya menolak ide nomor satu. Saya tidak bisa menjalin kasih dengan orang yang hanya saya kenal lewat alat komunikasi dan amat sangat jarang bertemu. Bagi orang lain mungkin tidak masalah, karena rasa sudah berbicara. Saya sendiri juga tidak bilang bahwa tipe pertama itu buruk, sekali lagi semua bergantung pada masing-masing individu.

Lalu untuk tipe yang kedua, saya sendiri juga tidak pernah terbersit sedikitpun saya harus mengalaminya. Tapi, ketika momen itu datang, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan emyudahi saja hubungan tersebut karena tidak yakin dapat bertahan, atau mencoba menjalaninya? Atau ada pula orang yang memutuskan untuk menyudahi dulu, lalu ketika pasangan sudah kembali lagi tapi belum memiliki pacar baru dan masih ada rasa lalu melanjutkan hubungan yang sempat terputus? Well, pilihan di tangan Anda.
Dulu, ketika belum memiliki pasangan alias jomblo, ketika mendapat pertanyaan tersebut, saya menjawab bahwa saya rasa saya akan memilih putus. Dikarenalan saya tidak cukup yakin dapat mempertahankan hubungan, terutama rasa saling percaya, yang merupakah kunci utama LDR.
Siapa sangka, entah karma atau apa, saya harus mengalami LDR tipe yang kedua! Padahal hubungan saya dengan pasangan saat itu baru berjalan beberapa bulan. Mengingat masih mudanya lama hubungan yang baru saya jalin, saya pun lantas memberanikan diri untuk tetap melanjutkan hubungan dan berjarak jauh ini. Saat itu, saya hanya bisa menjalani dengan pasrah dan tidak terlalu berharap apakah LDR ini bisa bertahan atau tidak. 
Banyak rintangan yang saya hadapi di awal-awal LDR ini, krisis kepercayaan juga pernah terjadi, apalagi yang namanya pertengkaran. Pada masa itu, pikiran untuk menyerah juga muncul, tapi suara hati saya yang lain mengatakan, “Jangan menyerah! Ini hanya ujian kecil.” sehingga saya pun masih berusaha mempertahankan hubungan ini Sama dengan yang dilakukan oleh pasangan saya, kami berdua sama-sama berusaha mempertahankan hubungan dan saling percaya satu sama lain. Komunikasi tetap intens sehingga masing-masing mengetahui kegiatan satu sama lain. Tanpa terasa, sekarang sudah memasuki 9 bulan hubungan kami. Perjalanan kami masih panjang, semoga dapat berakhir bahagia dan berlanjut ke tahap selanjutnya.
Menjalani LDR benar-benar bukan tantangan yang mudah. Saya rasa ada banyak pasangan LDR di luar sana yang pada akhirnya bubar karena berbagai sebab. Saya harap, saya tidak harus menjadi salah satu bagian dari itu. Di sisi lain, saya sendiri belajar banyak hal dari LDR ini, yakni belajar menghargai dan percaya pada pasangan serta menjaga komunikasi dan saling jujur & terbuka. Kekurangan LDR adalah selain tidak bisa sering bertatap muka, kita juga tidak bisa mengetahui ‘adat’ asli dari pasangan. Sejujur dan seterbuka apapun pasangan, pasti ada hal-hal kecil seperti kebiasaan yang tidak dapat kita ketahui. Ketika pasangan tengah pulang, waktu yang ada harus benar-benar dimanfaatkan seberkualitas mungkin. memang tidak ada yang sempurna di dunia ini dan manusia hanya bisa mengusahakan yang terbaik. 
Dari pengalaman ini, saya merasa bahwa keinginan untuk tetap bersama di kedua belah pihak paling menentukan keberhasilan suatu hubungan. Dari keinginan tersebutlah, perbuatan yang dilakukan masing-masing pihak akan berusaha untuk mewujudkannya, termasuk dengan bersikap jujur, terbuka, dan setia. Juga sepertinya sebelum memutuskan menjalani LDR kita harus mencoba yakin bahwa pasangan kita bisa dipercaya (kasarnya: liat model orangnya dulu, model lurus apa model playboy), meski sebaiknya juga jangan menaruh harapan terlalu tinggi, karena tidak ada yang bisa menerka isi hati orang lain. Jika ternyata gagal, akan terasa sangat sakit. Saya merasa lebih baik menjalaninya apa adanya saja, jangan terlalu banyak berprasangka buruk yang akhirnya malah merunyamkan hubungan. Serahkan semua ke alam semesta. Jika kami memang harus dipersatukan, alam semesta akan mewujudkannya. Jika gagal, maka kita perempuan layak mendapatkan suami terbaik. Saya sangat percaya akan pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Jika pasangan kita berbohong, cepat atau lambat kita akan mengetahuinya.
Setelah membaca curahan isi hati saya yang mengalami LDR, lantas bagaimana dengan pendapat teman-teman sekarang?
Advertisements

Thank you for reading! Feel free to put your comment below

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s