It Started with A “Why”

Hai semua,

Dalam artikel kali ini, saya ingin bercerita sedikit tentang perjalanan saya nge-blog. Konon katanya ketika ingin memulai sesuatu, janganlah bertanya “apa yang ingin saya lakukan”, tapi bertanyalah pada diri sendiri “kenapa saya ingin melakukan ini”. Saya lupa siapa pertama kali pencetus pepatah tersebut, yang jelas makna dibalik kalimat tersebut sangat mendalam dan tentunya berhubungan dengan seberapa lama eksistensi suatu usaha.

Jika ditelaah lebih lanjut, memang sih kalau hanya berpikir mau usaha apa atau melakukan apa, tidak akan ada habisnya dan ketika usaha tersebut tidak berhasil, kita menjadi cepat lelah, putus asa, dan akhirnya banting setir. Apa pasal? Karena tidak ada landasan kuat kenapa kita harus mempertahankan usaha tersebut.

Lain halnya jika kita mengubah pola pikir dengan “mengapa saya mau melakukan ini?” dapat menjadi motivasi jika dalam prosesnya usaha kita menemui jalan buntu. Berbekal fondasi “kenapa” kita akan menjadi lebih semangat untuk mencari jalan keluar alih-alih menyerah.

And today, I’d like to share you my “WHY”…


blogging
pixabay.com

So, why I do blogging?

Saya mulai membuat blog Mel’s Playroom ini sejak tahun 2012 dan berawal dari hobi membaca novel dan menulis. Sewaktu SMP-SMA saya sering iseng menulis cerita-cerita pendek di buku pribadi dan pernah sekali diterbitkan di majalah SMA (sekarang sudah entah ke mana majalahnya haha…). Cerpen-cerpen itu sendiri pun kadang ada yang tidak selesai (masalah motivasi) dan dibiarkan terbengkalai. Hingga akhirnya saya merasa bosan dan malas membuat cerita (tabiat jelek, jangan ditiru ya).

Ketika teknologi komputer semakin maju dan muncul yang namanya internet, hadirlah sebuah platform menulis bernama blog. Promosinya adalah bahwa siapapun bisa menulis di internet dan kerennya punya website sendiri. Tertarik dong saya dan pengen juga bisa punya blog nih. Bisa memuat hasil karya tulisan saya. Kebetulan waktu itu di era 2006-an, saya lupa tahun persisnya yang jelas saya masih kuliah, dosen memberikan tugas membuat blog berkelompok. Dari situ saya belajar tentang blogspot dengan ala kadarnya.

Memasuki tahun 2009, saya membuat blog pribadi yang nama awalnya saya lupa dan kini berganti jadi K-drama District. Tulisan awal saya temanya random banget dan nggak jelas, cuma sekadar yang penting nulis dan blog ada isi. Baru ketika tahun 2010 sedang booming K-drama, saya coba iseng-iseng bikin artikel tentang K-drama land yang berlanjut hingga tahun 2013. Dalam perjalanannya, lagi-lagi saya merasa jenuh dan merasa blog ini kurang greget jika saya ingin menghasilkan sesuatu dari blog.

Kemudian di tahun 2012, ketika mulai ramai tren beauty blogger, saya ikutan coba bikin blog baru khusus tema tersebut yang diberi nama kamarmelissa.blogspot.co.id. Ide awalnya karena beauty itu kan identik dengan dressing table yang biasanya ditaruh di kamar pribadi dan cenderung privat. Jadi ya, saya ingin menghadirkan kesan privat tersebut ke dalam blog walau akhirnya risih sendiri kalau pas menyebut domain blognya hahaha.. Akhirnya, saya lupa tahun persisnya, saya ganti judul blog (belum domain) menjadi Mel’s Playroom dengan filosofi seperti yang tertulis di halaman ABOUT. Seiring berjalannya waktu, saya cukup menikmati menjadi beauty blogger dan lumayan produktif membuat artikel, lebih daripada waktu bikin konten tentang K-drama. Walau awalnya ikut-ikutan tren tapi nyatanya saya jatuh hati sama jenis konten tersebut dan terus berlanjut menjadi major theme blog ini.

Di pertengahan jalan, saya memindahkan platform Mel’s Playroom dari blogspot ke wordpress.com karena iming-iming yang mengatakan platform wordpress lebih SEO friendly, meski ternyata platform wordpress.com belum bisa dipakai untuk program afiliasi dan untuk mapping domain pun harus bayar, tidak seperti platform blogspot. Awalnya sempat gaptek pakai wordpress, tapi setelah belajar lebih jauh, ternyata wordpress cukup mudah digunakan dan tampilannya lebih kelihatan pro serta writing interface-nya lebih nyaman dibanding blogspot.

Well, sewaktu masih di blogspot, saya juga nambah ilmu sampai belajar kode HTML lho demi menampilkan desain template blog yang menarik dan tampak profesional. Entah kenapa hobi otak-atik desain blog ini jadi daya tarik tersendiri buat saya. Bahkan di wordpress pun saya sempat beberapa kali ganti tema desain. Sayang saja, template di wordpress tidak bisa diutak-atik terlalu banyak seperti blogspot dan pilihannya terbatas, tidak bisa import dari pihak ketiga kecuali wordpress dengan self-hosting. Lalu, apakah saya jadi menyesal pindah ke wordpress? Sempat sedikit sih, tapi ya sudahlah, saya sudah kadung nyaman di sini terutama dengan writing interface-nya. Doakan saja nanti bisa beli self-hosting dan jadi blogger yang lebih profesional lagi. Hehehe…

Sejak mulai belajar tentang dunia blog, cukup banyak ilmu yang saya pelajari secara otodidak. Selain masalah tampilan, saya belajar bagaimana membangun network, belajar agar konten yang kita buat bisa SEO friendly, mengolah kosakata agar lebih menarik, belajar tentang google analytics, mengoptimalkan media sosial sebagai corong promosi blog, dlsb.

Lho kok jadi bahas platform? Intermezzo saja ya. Lanjut lagi ke topik.

pixabay.com

Why choosing beauty themed?

Setelah mengawang-awang bingung menentukan tema niche blog yang potensial, banyak diminati, dan google friendly, ya akhirnya saya coba putuskan terjun ke ranah kecantikan. Alasan lainnya simpel, saya waktu itu juga lagi tertarik sama dunia make-up dan merasa lebih mudah membuat artikel dengan mereview produk-produk yang saya pakai. Seiring berjalannya waktu, saya bergabung ke komunitas dan banyak mendapatkan kesempatan sponsored review.

Cumaaa… waktu itu saya masih amatir nan naif sekali dan pengetahuan soal beauty masih sangat cetek. Terjun menjadi beauty blogger tanpa bekal selain asal nyemplung, mengakibatkan saya menjadi serakah dan selebor. Yang terjadi malah pemborosan karena terlalu sering belanja produk make-up demi mengisi konten, mencoba ini-itu dan tawaran produk gratisan, ikut giveaway tralala, hingga berujung pada I wrecked my face!

Hell!

Yes, acne everywhere! Sampai-sampai diomelin orangtua untuk berhenti jadi beauty blogger karena cuma bikin rusak muka, buang duit lagi ke dokter kulit untuk berobat. Hiks, very sad you know. Alhasil saya sempat vakum menulis tentang konten beauty dan beralih menulis tentang makanan, demi mempertahankan blog yang sudah berumur 5 tahun ini. Iya, nggak terasa blog saya umurnya udah 5 tahun aja dan saya merasa nggak rela jika blog ini harus dibiarkan terbengkalai-lagi-. Nggak rela aja sesuatu yang sudah susah payah saya bangun lalu dibiarkan teronggok hampa. Finally I found my motivation regarding why I should preserve this blog.

I’m holding on because I’m so in love with writing and can’t live without it.

Dengan menulis saya merasa berkarya, menciptakan sesuatu, dan mendapatkan kepuasan bisa berbagi dengan banyak orang. Meski konsistensi menulis masih sering naik-turun, tapi pada akhirnya saya akan kembali lagi ke dunia tulisan. Bisa dilihat di bagian archives, rekam jejak tulisan di blog ini ada bulan-bulan dimana saya vakum menulis. Namun, ketika rasa stress, jenuh, dan stuck dengan rutinitas melanda, I’m back! Menulis sudah seperti menjadi stress-relieve therapy buat saya. Walau di blog ini sempat vakum bukan berarti saya meninggalkan dunia tulisan. Saya sempat numpang nulis di Kompasiana dan mengirimkan artikel ke majalah lokal di tempat tinggal dulu. Lumayan sih sempat merasakan namanya honor menulis. Hehe… Cuma ya itu, masih moody-an. Kelemahan yang harus saya atasi agar terus bisa konsisten berkarya.

pixabay.com

Why I return to beauty content?

Nggak takut bikin wajah rusak lagi?

Jawabannya, belajar dari kesalahan donk.

I don’t think that being a beauty blogger should make our face become guinea pig

Memang baru belakangan ini banget saya kembali fokus ke konten beauty dengan mempelajari bahwa we should cherish our asset first. Jadi beauty blogger bukan berarti wajah kita bisa dijadikan kelinci percobaan dong. Justru lebih baik kita pakai produk yang benar-benar cocok sama wajah kita lalu publikasikan. Bukan coba ini-itu untuk tes kecocokan. Alhasil, bukannya muka mulus tapi malah hancur dan pada akhirnya penilaian kita terhadap suatu produk jadi tidak obyektif.

Saya menyadari bahwa yang terpenting adalah menjaga kulit wajah dan menomorduakan makeup, karena makeup itu sifatnya korektif. Percuma juga kita beli makeup semahal apapun kalau ‘kanvasnya’ nggak mulus, seperti yang tertulis di blognya Wholeheartedly Written. Jadi kini saya kembali dengan moto mengutamakan kesehatan kulit wajah. Kalaupun ada tawaran review produk, saya pastikan harus riset dulu apakah cocok komposisinya dengan jenis kulit wajah saya? Jika tidak, ya terpaksa saya pass saja.


Baca juga: Alasan Kenapa Wanita Harus Tampil Cantik


Sebenarnya awal mula saya kecemplung ke beauty content lagi karena saya sedang hamil! Sebab itu, saya jadi extra aware dengan segala jenis kosmetik yang saya pakai. Meski sedang hamil bukan berarti kulit wajah dibiarkan tidak terawat dong. Selain itu, saya juga bertekad ingin berhenti dari obat dokter. Lelah dan menguras kocek cukup dalam. Mungkin berangkat dari tekad inilah yang mempertemukan saya dengan konten-konten skincare dari para beauty guru sehingga bisa menambah ilmu baru tentang dunia kecantikan. Walau awalnya konten yang saya cari juga tentang makeup bagaimana agar wajah tampil flawless. Eh, malah ketemu konten dari Liah Yoo tentang cara-cara mengatasi jerawat dengan produk skincare yang ada di pasaran dan mengubah gaya hidup. Sejak itu, I’m really influenced by her dan kebetulan kita juga punya masalah wajah yang mirip.

Lalu entah berkat hormon kehamilan atau tidak, ditambah perawatan yang tepat, kini wajah saya jauh lebih baik daripada sebelum hamil. Perjuangan kini tinggal menghilangkan bekas jerawat dan pori-pori besar. Semoga kondisi ini tidak berubah usai melahirkan. Sebagai “balas budi” (cieee) atas jodoh baik ini, saya pun ingin berbagi kembali dari apa yang saya dapatkan dan semoga dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman yang mengalami masalah serupa.

pixabay.com

I’m back because the potential opportunity of blogging and am supported by my husband and circle.

Nggak mau munafik kalau sekarang ini blog bisa dijadikan profesi dan menghasilkan uang, dengan usaha dan kerja keras pastinya. Saya sendiri memang memendam cita-cita bisa menjadi seorang mompreneur-entah bagaimana jalannya-setelah punya anak nanti. Dan selama saya aktif di blog, saya menerima banyak kesempatan untuk berkembang, dari undangan hingga tawaran kerjasama. Bahkan ketika sedang vakum pun masih ada yang memberikan saya undangan event. Yah, bukan berarti semua sudah dibayar dengan uang. I’m not that money oriented but being realistic. Blog saya mah belum ada apa-apanya lah. Masih harus banyak belajar dan berkembang agar layak dinilai oleh brand-brand vendor.

Harapan bisa menghasilkan uang dari blog pastinya ada, tapi saya tidak mau menjadikan itu sebagai motivasi utama. Jika kita menulis dengan motivasi uang lalu hasilnya belum kelihatan juga, kita pasti ada rasa kecewa dan menyerah, merasa tidak berhasil. Seperti yang saya ulas di atas. Jika memang suka menulis, ya jalani saja, hitung-hitung latihan dan mengasah kemampuan agar terus bisa menghasilkan konten yang bagus. Jika sudah bisa menyajikan konten yang bagus, pasti akan ada yang melihat karya kita kok. Jika memang sudah rejeki dan jalannya, uang mah menyusul. Buktinya? Saya tidak menyerah dengan blog kesayangan ini karena memang niat saya nulis untuk bikin karya sekaligus melepas stress. Bonus jika ada yang bayar usaha saya. Hehehe…

Motivasi lain juga datang dari suami dan teman-teman yang pernah membaca tulisan saya. Mereka bilang hasil tulisan saya bagus dan enak dibaca, jadi sayang kalau tidak dikembangkan lagi. Kalau kata suami, sudah beli domain tapi jarang update sayang banget. Balik nulis sana. Hahaha… Tapi bukan berarti saya lantas jadi jumawa ya, saya juga masih harus belajar terus untuk mengasah skill blogging dan menulis. Masih jauhlah sama mereka yang benar-benar sudah jadi blogger profesional. Saya menganggapnya sebagai motivasi agar terus berkarya dan bisa bermanfaat bagi pembaca. Untuk itu, saya pun bergabung dengan grup-grup blogger agar bisa saling belajar.

Support from our circle is somehow important and can be a fuel to keep the fire lit.

Fiuh… artikel yang cukup panjang kali ini ya dan semoga tidak membosankan bagi teman-teman yang membaca. Yang terpenting, temukan alasan kuat mengapa kamu harus melakukan sesuatu dan mempertahankannya…

Sekian sharing dari saya. Semoga bermanfaat bagi teman-teman dan bila ada yang punya pengalaman serupa, ngobrol yuk di kolom komentar.

Advertisements

9 thoughts on “It Started with A “Why”

  1. Halo kak :)tahun ini aku bikin blog baru lagi. Blog baru itu aku isi dengan review buku dan review skincare/makeup yg pernah aku cobain. Tapi di tengah jalan aku jadi ragu gitu kak. Soalnya kan udah banyak banget blog yg isinya review buku dan review makeup/skincare. Jadi aku ngerasa blogku “pasaran dan biasa banget.” 😦 Kalau menurut kakak gimana ya?

    Like

  2. Wah kita samaan ya baru mulai serius ngeblog pas 2012 πŸ˜€ Nggak terasa ya tau2 udah 5 tahun aja. Semakin kesini saya juga makin nemuin alasan kenapa saya harus ngeblog, dan salah satunya adalah sebagai ajang relaksasi πŸ™‚ Smangat πŸ™‚

    Like

Thank you for reading! Feel free to put your comment below

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s