Cerita ASI #1: Balada Menyusu Langsung vs Perah vs Susu Formula

Usai melahirkan, tantangan selanjutnya adalah bagaimana supaya kita para new mom bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayi tercinta. Setuju?

Perjuangan ASI dimulai beberapa jam setelah proses persalinan. Untuk saya sendiri sekitar 12 jam pasca operasi caesar karena sebelumnya masih di bawah pengaruh obat. Cerita perjuangan ASI setiap ibu pastinya berbeda. Ada yang beruntung bisa keluar dengan cepat, ada yang harus melalui proses stimulasi cukup lama agar bisa keluar. Saya sendiri untungnya tidak butuh waktu terlalu lama dan kebetulanβ€”menurut susterβ€”anak saya termasuk pintar menyusunya sehingga kolostrum mulai keluar sedikit demi sedikit. Lagipula bayi baru lahir masih memiliki cadangan makanan untuk 2 hari ke depan pasca lahir sehingga jika ASI masih keluar sedikit tidak perlu khawatir. Dan konon katanya produksi ASI itu bersistem increased by demand seiring bertambahnya usia bayi.

Drama ASI dimulai ketika sudah pulang ke rumah. Kala itu, saya masih menyusui langsung dan belum memiliki pompa. Masalah yang saya hadapi sebagai ibu baru yang masih bloon, saya tidak tahu takaran minum anak saya. Alhasil, walau sudah disusui dan durasinya cukup lama, ternyata anak saya tidak benar-benar menyusu alias hanya mengempeng atau istilah bekennya growth spurt. Jadi walau sudah disusui berjam-jam dia tidak merasa kenyang dan sering menangis minta “nambah”, saya sendiri juga jadi tidak bisa beraktivitas banyak karena “tersandera” sama anak. Belum lagi puting saya yang jadi lecet karena si anak terlalu “semangat” nyusu.

Hari ketiga pasca pulang, saya kembali kontrol ke dokter anak sesuai instruksi. Saat pemeriksaan, dokter mengatakan kulit anak saya agak kuning dan sepertinya karena ASI masih kurang. Dokter segera menyarankan untuk membeli pompa asi agar dapat mengukur daya minum sang anak, juga menyediakan sufor jika ASI belum mencukupi agar bayi tidak puasa. Kekurangan cairan adalah penyebab utama naiknya kadar bilirubin, padahal sebelum pulang, kadar bilirubin anak saya terbilang bagus, yakni 9,45. Dokter berkata lagi agar anak saya dicek lab dan jika kadarnya tinggi bisa langsung tindakan sinar.

Deg!

Mendengar penjelasan dokter tersebut, hati saya mencelos. Pertama, dokter menyarankan sedia sufor, sementara saya bercita-cita ideal bisa memberikan ASI eksklusif. Kedua, dokter meminta cek laboratorium, kasihan kan anak sekecil itu dan baru beberapa hari harus terkena jarum suntik.

Setelah berembuk dengan keluarga dan bertanya pada yang sudah berpengalaman, saya dan suami memutuskan untuk menunda cek lab. Kami ingin berupaya secara alami terlebih dahulu dengan mengandalkan jemur matahari pagi dan susu baik asi maupun sufor. Untungnya sang dokter sangat baik dalam mengapresiasi maksud kami. Dokter mengatakan tidak masalah jika hari itu tidak mau cek lab dulu, tapi kalau kulit anak makin kuning segera cek lab agar bisa segera ditindaklanjuti.


Baca juga: Menyambut Kehadiran Si Kecil, Apa Saja yang Harus Disiapkan?


Sepulang dari rumah sakit, kami segera mencari toko online yang menjual pompa asi dan membelinya tanpa melihat review lebih lanjut, hanya mengandalkan sedikit info yang saya tahu merknya lumayan bagus dan harganya terjangkau. Pengalaman soal membeli pompa asi ini juga memiliki cerita tersendiri yang akan saya ulas di episode berikutnya (udah kayak sinetron aja ya hehehe 😁).

Untuk menghilangkan kuning anak, dengan metode alami yang kami jalani terbukti ampuh setelah dilakukan rutin  selama kira-kira 2 minggu lamanya. Kuning pada kulit bayi berangsur-angsur menghilang.
Setelah mendapatkan pompa asi, terus terang memang daya minum anak saya lebih terukur dan saya menyadari kalau anak saya memiliki nafsu makan yang cukup besar. Sesuai prediksi dokter, anak saya mau tidak mau mengonsumsi sufor agar cairannya tercukupi. Sempat baca-baca cerita pengalaman dan sharing dengan teman, mereka juga bercita-cita memberikan asi eksklusif tapi ketika kondisi tidak memungkinkan, mau tak mau mereka berdamai dengan sufor daripada anak jadi sakit karena kurang cairan.

Sometimes life can’t be as ideal as we wish for.

Lalu, sejak memiliki pompa asi, saya memang lebih cenderung menggunakan alat tersebut dibanding menyusui langsung, karena alasan yang sudah disebut di atas, walau sebenarnya memang tidak dianjurkan mengenalkan dot terlalu dini pada bayi. Sesekali saya masih menyusui langsung agar anak tidak bingung puting dan syukurnya anak saya masih mau disusui langsung meski diikuti dengan drama empengnya.

Dengan pompa asi pun saya jadi bisa mengukur kemajuan daya minum anak yang kini di usia sebulan, sudah mampu minum ukuran 100-140 ml meski kadang dicicil dalam hitungan menit minumnya. Jujur saya sempat shock dan takut dengan daya minumnya yang terbilang luar biasa dibanding anak seumuran lainnya. Teman dan keluarga yang tahu juga cukup kaget hingga ada yang mengira kami mencekoki anak kami dengan susu terus, padahal yang terjadi anak kami akan menangis minta susu jika belum kenyang πŸ˜….

Kami pun sampai bertanya ke suster dan dokter perihal ini dan mereka mengatakan tidak masalah selama si anak memang masih mau. Fiuh…

Jadi hingga kini bisa dikatakan saya menggunakan ketiga metode tersebut untuk menyusui anak dengan pompa asi yang mendominasi. Sufor ya terkadang jika sudah minum asi sampai habis tapi anaknya masih mau nambah. Bagi saya ASI tetaplah yang terbaik, bisa memberikan secara eksklusif sangat bagus, tapi bila harus dibantu dengan susu formula juga tidak apa. Yang penting anak tumbuh sehat bukan?

Pastinya setiap ibu punya pengalaman dan metode tersendiri yang dirasa terbaik untuk buah hati. Rasanya terlalu kejam menghakimi metode yang dipilih ibu lain tanpa mengetahui kisah dibaliknya. Well, hidup orang tidak pernah sama. Nah, bagaimana pengalaman mengASIhi moms?

Advertisements

7 thoughts on “Cerita ASI #1: Balada Menyusu Langsung vs Perah vs Susu Formula

  1. April Hamsa (@april_hamsa) says:

    Semoga jadi pelajaran buat para bumil yang lain ya mbak, bahwa sebaiknya saat hamil segera persiapkan pompa ASI.
    Kebetulan saya dulu punya pengalaman serupa, saat hamil pertama. Anak saya BBLR, puting datar, gak punya pompa ASI lengkap deh hehe. Anaknya jg nempel seharian, tapi itu lbh krn daya isapnya lemah (BBLR) dan gak bagus.
    Trus saya belajar dr konselor dan diajarin. Emang sebaiknya nenen langsung, krn air liur bayi bagus utk tetep merangsang keluarnya ASI, baru tambahkan ASIP setelah nenen, kalau newborn abis nenen 1/4 jam tambah 30 cc ASIP. Dulu anak saya pakai sendok sih, malah nolak dot/ botol soalnya puting ibunya lbh empuk. Menyusui emang harus keras kepala sih ya, tapi semoga enggak dijadikan beban. Yg penting usaha maksimal. Soalnya selain ttgASI sufor, tantangan mendidik anak ntr jauh lbh gede πŸ˜€
    Maaf komennya kepanjangan hehe, semoga berkenan….

    Like

  2. nfadilah says:

    Welcome to the world!! Haha
    Baby nya banyak nyusu gapapa yah yg penting sehat. Mamanya jadi cepet langsing juga πŸ˜‚. Memang kalau masih asi gitu sih. Yah suka suka bayinya aja mau nyusu semana.

    Biar produksi asi banyak, bisa konsumsi makanan yg jadi booster alami gitu. Tiap orang beda beda yah. Ada yg kacang kacangan, daging dagingnya sayur dll. Cocok cocokan gitu. Kalau gw dulu makan daging kambing asi jadi deres banget sama minum habbatussauda. Tapi yang paling penting dari semua itu adalah mamak harus happy. Gak boleh setress.

    Oh iya saran dari gw dulu karena Nafisah pake dot asi gw makin lama makin seret. Kalau mau coba bisa di ganti sama cup feeder atau medela apa gitu lupa πŸ˜‚

    Ok deh Mel, selamat mengASIhi semoga nanti baby-nya asi terus sampai S3 !
    Chiayyoo

    Liked by 1 person

    • Melissa Tjia says:

      S3 maksudnya apaan Ni? Hehehe… Kok pake dot malah jd seret? Emang gak di-dbf lg kah?

      Kalo asi booster i juga minum yang macam sereal soya gitu, soalnya kacang2an cuma doyannya kacang kedelai hahaha

      Like

      • nfadilah says:

        Sampe anaknya 2th maksudnya. Dulu pas kerja kan anak gw sempet ditinggal. Pas dbf anak kan nyusu puting mama masuk sampai dalam anak sedotnya kuat. Kalau pakai dot gak perlu sedot kuat kan. Jd anaknya udh biasa pakai dog pas dbf sedot gak kuat. Sedot gak kuat yg keluar gak banyak. Sedangkan produksi asi kan berdasarkan supply and demand gitu. Jd lama lama asi gw seret. Asli galau abis

        Like

Thank you for reading! Feel free to put your comment below

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s