Begini Caranya Blogger Bisa Diajak Kerjasama dengan Brand

blogger diajak kerjasama brand

“Blogger A sering banget deh diajak kerjasama sama brand, kok aku susah banget ya diterima kerjasama?” Sering bertanya-tanya seperti itu? Hm, mungkin kamu perlu baca dulu artikel saya ini supaya ke depannya mudah diterima kerjasama dengan brand. Yuk, simak cara-caranya berikut ini.

Di era digital sekarang ini, profesi blogger nggak lagi hanya dianggap sebelah mata, tapi sudah dianggap pekerjaan profesional dan sejajar dengan juru warta konvensional. Saat ini banyak brand yang mengajak blogger bekerjasama untuk membantu memasarkan produk mereka, baik barang maupun jasa. Melihat peluang tersebut, nggak heran dalam 1 dekade terakhir cukup banyak orang yang memilih menjadi blogger, entah itu full time atau sekadar sampingan untuk menambah pundi-pundi.

Nah, kalau kalian merupakan salah satu yang menjadikan blogger sebagai profesi dan ingin bisa diajak kerjasama dengan brand, kita pelajari dulu yuk apa sih yang diharapkan brand dari blogger?

Tanggal 18 April lalu, saya berkesempatan ikut kulwap Ngopi Cantik Beautiesquad #10 bersama Erny Kurnia. Tema Ngopi Cantik kali ini adalah “Ekspektasi Brand Ketika Bekerjasama dengan Blogger“. Di sesi ini, Erny membagikan pengalamannya sebagai perwakilan brand ketika bekerjasama dengan blogger. Silahkan disimak.

Tujuan brand mengajak kerjasama blogger

Setiap brand yang mengajak blogger bekerjasama pasti memiliki tujuannya sendiri. Biasanya 4 hal ini merupakan tujuan brand bekerjasama dengan blogger:

  1. Meningkatkan baclink ke website resmi brand. Seperti website pada umumnya, website brand juga membutuhkan nilai DA/PA yang bagus. Dengan adanya backlink, akan membantu meningkatkan traffic sekaligus menaikkan skor DA/PA mereka. DA/PA ini akan mennjadi brand value yang sangat dibutuhkan dalam jangka panjang.
  2. Meningkatkan SEO brand di mesin pencari seperti Google.
  3. Meningkatkan brand awareness brand tersebut dan juga produk yang sedang mereka promosikan.
  4. Memberikan banyak pilihan review kepada calon pelanggan. Misalnya saja produk skincare. Cara kerja produk di setiap kulit pasti nggak sama. Ada yang mungkin cocok dan tidak cocok. Calon pelanggan setidaknya bisa mendapat insight jika produknya digunakan di kulitnya, yang kurang lebih mirip dengan jenis kulit blogger sebelum memutuskan untuk membeli.
blogger diajak kerjasama brand

Kriteria blogger agar bisa diajak kerjasama brand

Untuk bisa mencapai tujuan tersebut, setiap brand pasti mencari blogger yang dapat membantu mereka mewujudkannya. Brand pun punya kriteria tertentu yang harus dimiliki seorang blogger sebelum memutuskan bekerjasama.

Memiliki blog berbasis TLD

TLD adalah kependekan dari top level domain. Awamnya, kita punya blog yang belakangnya itu berakhiran .com, .co.id, .id, .net, apapun pilihan kalian. Paling populer ya .com, tapi bisa juga domain lain sesuai selera kalian. Kalau blog kalian masih berakhiran .blogspot.com atau .wordpress.com, ya berarti belum TLD.

Kenapa blogger sebaiknya punya website yang sudah TLD? Karena website TLD lebih mudah terindeks di Google sehingga mudah pula untuk mengukur dan menaikkan DA/PA. Brand kurang suka bekerjasama dengan blog yang belum TLD karena tidak akan berdampak apapun pada DA/PA website mereka.

Kalau kalian sudah punya TLD, tahap berikutnya adalah menaikkan nilai DA/PA kalian, setidaknya 12/20.

Oh ya, dari tadi saya bahas tentang DA/PA, apaan sih itu? Buat kalian yang belum paham, DA itu kependekan dari domain authority dan PA adalah page authority. Apa perbedaan keduanya dan kenapa penting banget buat website? Penjelasannya bisa kalian baca website klikseo.com. Soalnya kalau saya bahas di sini nanti artikelnya kepanjangan, hehehe…

Jadi intinya selain keluar modal sedikit untuk beli domain, kita juga harus rajin membuat konten berkualitas agar nilai DA/PA-nya bagus.

Memiliki personal branding yang kuat

Seorang blogger juga sebaiknya memiliki personal branding yang kuat dan selaras di media sosial. Misalnya kita sebagai beauty blogger, maka segala aspek yang berkaitan dengan blog kita juga harus membahas tentang beauty.

Lalu, biasanya brand kecantikan juga ingin mengedukasi customer, maka mereka juga membutuhkan blogger yang bisa menyampaikan pesan mereka dengan baik. Lebih bagus lagi jika beauty blogger tersebut tidak menggunakan produk abal-abal/ KW, nggak hanya dari sisi kosmetik, tapi produk lainnya juga seperti fashion atau sepatu yang dipakai.

Beauty blogger nggak harus cantik dan putih

Bagi brand yang terpenting agar blogger diajak kerjasama brand adalah bagaimana cara blogger mengemas konten. Bagaimana seorang blogger bisa menyampaikan pesan mereka dengan jelas kepada pembacanya berdasarkan pengalaman mereka ketika menggunakan suatu produk.

Punya konten yang berkualitas

Kualitas di sini nggak hanya dari sisi penulisan saja, tapi bagaimana beauty blogger menyajikan visual secara bagus, jelas, dan menarik. Visual dalam arti foto yang mendukung isi tulisan.

Biasanya brand juga memilih blogger yang memiliki target pembaca sesuai dengan target market mereka. Maka dari itu, kita sebagai blogger juga harus punya dan bisa menyesuaikan isi konten dengan target pembaca.

Blogger harus kuat secara branding di media sosial tapi tidak harus jadi selebgram

Ketika brand merekrut blogger atau influencer/ selebgram, mereka pasti mempunyai tujuan yang berbeda. Idealnya, nggak bisa tuh namanya mengharapkan backlink traffic dari Instagram saja. Namun, kita tetap harus bisa memanfaatkan media sosial untuk mempertajam branding kita sebagai beauty blogger. Dengan aktif dan konsisten menggunggah konten tentang kecantikan di media sosial, akan memperlebar jalan kita dilirik dan diajak kerjasama oleh brand. Syukur-syukur bisa jadi top of mind di mata brand.

Baca juga: Tips Mudah Meningkatkan Engagement Rate Instagram

Meski sekarang ini tampaknya tren beauty vlogger lebih menjamur daripada beauty blogger, bukan berarti keberadaan beauty blogger tidak diperlukan lagi. Menurut Erny, beda platform beda tujuan. Beauty blogger masih dibutuhkan untuk mendukung eksistensi brand dalam jangka panjang di Google. Baik dari sisi SEO, brand awareness, brand value, hingga pengaruh ke tingkat penjualan. Berdasarkan pengalamannya, ada partner yang akhirnya mengajak kerjasama karena melihat profil brand yang bagus dari artikel-artikel blogger di Google.

blogger diajak kerjasama brand

Ekspektasi brand saat bekerjasama dengan blogger

Nah, ini pasti bagian yang ditunggu-tunggu dari tadi kan? Langsung saja kita bahas, kuy.

Blogger bisa menjadi ambassador dari brand

Dalam hal menyampaikan pesan produk dengan jelas kepada pembacanya. Misalnya menulis tentang review produk makeup, maka seorang blogger diharapkan dapat menyampaikan penilaiannya secara rinci tentang produk tersebut. Dari segi deskripsi produk, komposisi bahan, efek yang dirasakan saat menggunakan produk, serta plus-minus selama pemakaian (meski nggak semua brand suka disebutkan sisi minusnya).

Lain lagi jika kita membahas produk skincare, biasanya dibutuhkan penjelasan seperti manfaat, khasiat, dan efek yang dirasakan selama menggunakan produk sesuai kondisi kulit yang dimiliki blogger. Inilah alasan pentingnya ada sentuhan personal dalam penulisan review.

Baca juga: 5 Fakta Baru Tentang Skincare

Terjalin simbiosis mutualisme antara blogger dan brand

Dalam kerjasama ini, baik blogger dan brand pasti punya kepentingan masing-masing. Kita sebagai blogger butuh traffic, branding, ranking yang bagus di mata Google, dan loyalitas pembaca. Brand pun butuh blogger sebagai corong penyampai pesan yang efektif dan efisien. Maka dari itu, brand pastinya mengharapkan kerjasama yang profesional dari blogger agar sama-sama saling menguntungkan.

Membantu brand meningkatkan brand value dan positioning

Brand positioning biasanya berkorelasi dengan positioning blogger juga. Maka dari itu, brand juga punya kriteria blogger tersendiri yang harus selaras dengan positioning mereka agar dapat hit the target.

Itu dia ringkasan materi seputar cara supaya bsia diajak kerjasama dengan brand yang kemarin dipaparkan oleh Erny. Selanjutnya adalah sesi tanya jawab yang menurut saya juga nggak kalah penting untuk kita ketahui.

blogger diajak kerjasama brand
Saat ini banyak juga blogger atau nano KOL yang beli followers. Apakah brand tahu kalau ada KOL yang beli dan apakah brand ikut ngecek hal seperti ini?

Masalah ini kembali lagi pada PIC yang handle, apakah ia peduli dan ikut ngecek soal ini. Sebenarnya untuk mengetahui apakah seseorang beli followers atau nggak itu gampang banget. Bisa dilihat dari segi performanya dan bagaimana engagement seperti saling komen antara dia dengan followers-nya. Sebaiknya juga jangan terlalu sering ikut POD karena performanya jadi kelihatan nggak asli.

Ada brand yang nggak mau kekurangannya disebut. Padahal dalam kacamata blogger, menyebut kekurangan brand juga ada sisi positifnya untuk meningkatkan kualitas brand tersebut.
Bahkan ada juga brand yang ngasih skrip bahasa yang harus disampaikan oleh blogger.

Pertanyannya:
1. Apakah yang ada dipikiran brand kalau seorang blogger β€œnego” untuk menolak secara halus permintaan brand tersebut? Apa akan kapok kerjasama dengan blogger itu?
2. Kalau kita kerjasama dengan brand, memang tidak etis kalau kita membandingkan produk brand A dengan brand lain yang sejenis. Tapi misal di luar kerjasama, bagaimana pandangan
brand kalau kita buat perbandingan produk sejenis dari brand A brand B brand C?

Soal menyebut kekurangan produk, menurut Erny, sebenarnya adalah hal yang wajar dan manusiawi. Jika ada produk nggak cocok di kulit blogger, bukan berarti produk tersebut jelek. Sama halnya seperti ada yang suka dan nggak suka makan pare. Yang suka pasti bilang pare bagus untuk kesehatan dan banyak gizinya, sedangkan bagi yang nggak suka pasti bilang pahit dan nggak enak. Kalau begini ‘kan bukan berarti parenya yang jelek, tapi karena si pare memang nggak cocok sama selera kita saja.

Jadi kalau sampai ada brand yang menyuruh blogger menggunakan skrip yang ditentukan dan memuji-muji brand tersebut, tapi nggak sreg dengan hati nurani kita, sebaiknya dibicarakan saja dengan pihak brand.

Kalau dari pengalaman Erny, mereka juga biasa berkompromi soal ini. Jika ada blogger yang ternyata nggak cocok dengan produknya, biasanya blogger tersebut akan berkonsultasi dengan pihak brand untuk mencari cara bagaimana penyampaian yang sama-sama enak.

Soal kapok nggaknya kalau blogger menolak untuk nggak menyebut kekurangan produk, kembali lagi ke si brand tersebut.

Lalu soal membandingkan dengan brand lain seharusnya nggak masalah, tapi ya itu kembali ke kebijakan brandnya. Dan sebaiknya
dari sisi blogger juga bisa menyampaikan perbandingan itu dengan alasan yang jelas dan berimbang. Jangan hanya berat ke salah satu brand.

1. Setelah melihat hasil kerjasama dengan blogger, biasanya apa yang dinilai oleh brand sehingga terbuka kemungkinan diajak kerjasama kembali?
2. Bagaimana brand menilai rate card dari seorang blogger? Apakah rate card blogger ini kemahalan, murah, atau ideal dengan budget brand?

Jawaban 1:
Penilaian brand terhadap blogger bisa bermacam-macam. Biasanya ada penilaian dari sisi pageview. Namun, pageview suatu artikel itu bagus setelah terindeks di Google setelah 3 bulan. Kalau harus menunggu selama itu untuk mengevaluasi, rasanya hanya akan makan waktu.

Jadi, selain dari sisi pageviews, brand biasanya menilai kinerja blogger dari aspek-aspek berikut:
a. Cara penulisan. Ini sangat penting. Brand biasanya menilai bagaimana cara blogger merangkai kata dan menyampaikan brand message dengan benar. Kalau blogger menulis dengan bahasa yang berputar-putar, misalnya 1 kalimat sampai 3 baris dan penggunaan tanda baca tidak tepat, biasanya brand ogah mengajak kerjasama lagi. Blogger yang penulisannya nggak efisien, dikhawatirkan malah menyampaikan pesan yang blunder kepada pembacanya.
b. Kualitas foto pendukung. Ini juga menjadi indikator penilaian. Brand tidak memusingkan kamera apa yang dipakai, tapi jika kerjasamanya berbayar, pasti brand berharap kualitas fotonya setara HD dan jelas. Lalu, kalau blogger review produk lipstik, ya sebaiknya lakukan swatch dengan benar
, jangan hanya swatch di tangan, tapi juga swatch di bibir.
c. Blogger jujur cocok atau hanya asal sebut cocok tapi kemudian dijual kembali (preloved)? Sebenarnya sih nggak masalah kalau memang mau di-preloved tapi setidaknya tunggu 3 bulan. Kalau barang yang dikasih brand kita bilang cocok lalu nggak lama dijual kan kesannya jadi gimana gitu ya. Kecuali kita memang punya produk double.
d. Profesional dan terbuka. Kalau misalnya memang kurang cocok sama harganya, jangan oke di depan tapi misuh-misuh apalagi sampai hate speech di belakang. Kalau kebetulan brand melihat cuitan blogger yang seperti itu, otomatis kan brand jadi berpikir yang kurang baik. Sebaliknya, jika memang sudah setuju dengan harga tersebut ya kita sebagai blogger bekerja secara profesional saja.

Jawaban 2:
Masalah rate card bersifat subyektif, tapi secara umum biasanya brand menilai rate card blogger dari aspek berikut:
a. Performa media kit channel blogger
b. Kualitas konten (teks dan foto), apakah blogger tersebut layak dibayar sekian rupiah
c. Brief dari brand. Kalau briefnya membuat blogger harus mengerahkan banyak upaya, selayaknya blogger dibayar lebih tinggi.
d. Personal branding si blogger


Sering kejadian PIC brand mencari beauty blogger, tapi yang terpilih justru non beauty blogger dan mereka menang dari sisi follower Instagram. Kejadian ini tentu saja jadi membuat bingung karena nggak sesuai dengan persyaratan awal. Sebenarnya antara blog dan IG, mana yang lebih diutamakan brand?

Terkadang ada juga PIC brand yang nggak paham bahwa beda platform = beda tujuan. Kalau PIC tersebut memahami tujuan yang ingin dicapai brand, harusnya mereka mengutamakan beauty blogger. Kalau hanya mengejar awareness, meningkatkan profile visit, informasi flash sale, Instagram merupakan sarana yang tepat. Namun, jika memiliki tujuan statistik seperti yang dijelaskan di atas tadi, blogger merupakan pilihan tepat.

Di sisi lain, beauty brand juga nggak hanya bekerjasama dengan beauty blogger atau beauty content creator saja. Tergantung tujuan dari produk yang disasar. Misalnya produk skincare travelable, pasti beauty brand akan mencari travel blogger agar dapat menjangkau pangsa traveler, yang peduli dengan kesehatan kulit selama mereka bepergian.


Penyebabnya memang kompleks, selain PIC yang kurang paham tujuan brand, bisa juga brand-nya sendiri nggak memperjelas arahannya. Jadinya ya missmatch gitu.

Nah, itu dia ringkasan tentang cara supaya blogger bisa diajak kerjasama dengan brand. Semoga artikelnya bermanfaat buat teman-teman semua ya. Kalau dari saya sih, intinya kita harus rajin dan jangan menyerah untuk terus belajar membuat konten yang bagus. Suatu hari pasti akan ada brand yang lirik karya kita, kok. Percaya deh.

Kalau ada yang ingin ditanyakan tentang dunia beauty blogger ini, silahkan aja langsung drop your questions di kolom komentar ya. Jangan lupa nyalain notifikasinya supaya kamu tahu kalau saya sudah balas komentarmu. Thanks for reading and see you in the next post!

Melissa Tjia

Born in 1988 and currently living as a wife and mom of a couple kids. Been blogging since 2012 and have collaborated with numerous brands from various industries. In 2018, decided to be a full time blogger while nursing kids at home. For inquiries please contact hello@melsplayroom.com.

42 Comments

  1. Untuk penulisan konten aku selalu membiasakan baca berkali-kali sebelum klik “publish”. Tapi masih merasa tertampar dengan tulisan ini, karena masih ada aja tulisanku yg 1 kalimat 3 baris hahaha walaupun cuma sedikit.

    Kalau untuk barang dari brand, kalau memang cocok di aku, biasanya akan aku keep selama PAO masih memungkinkan (nunggu produk yg emg lagi dipakai habis dulu).

    Kalau PAO nggak memungkinkan biasanya akan aku kasih ke orang terdekat yang memang beneran bakal pakai. Sayang aja kalau kasih ke orang trus orangnya ngerasa itu gratisan akhirnya juga nggak kepakai sama dia.

  2. Terimakasih Mbak atas penjelasanya, rinci banget.
    Sebagai bahan evaluasi tuk membenahi Blog ane agar ada yg lirik hehe

  3. Memang agak susah untuk menolak tawaran dari brand atau pihak luar, namun jika kita jelaskan alasannya mereka juga pasti mengeri.
    Jadi jangan takut untuk menolak jika misalkan brand yang di tawarkan tidak cocok atau menyalahi kebijakan dari blog yang kita buat

  4. Bagus juga, tujuannya nanti kan untuk membangun personal image kan yaa, lalu diimbangi dengan brand profile online, ini salah satu bentuk langkah membangun personal branding sih, mantab Kak

  5. Nah. Kalau tahu jelas apa yang diharapkan oleh brand, kita bloggers juga jadi tahu apa yang harus dilakukan. Jadi gak asal terima job, dibayar, tapi ternyata tidak sesuai harapan. Terimakasih, Kak Melisa.

  6. Biasanya kalau untuk kepentingan link building, brand ngutamain banget blog yang relevansinya dekat dengan niche brand, dan blog yang punya trafik organik bagus. Apalagi kalau brand hire orang SEO buat ngurusin link building, 2 hal itu diutamain banget, DA/PA bisa jadi priotitas di bawahnya. Cuma sayangnya selama ini yang saya tahu artikel yang dikasih ke blog untuk keperluan link building kebanyakan kualitasnya kurang bagus atau mahal jelek.

    1. Kalo content placement memang agak susah ya, soalnya kualitas penulis beda-beda. Paling cuma bisa siasati gaya bahasa agar nggak jauh banget dari gaya penulisan kita ya pak.

      1. Kalau saya milih nego sama yang ngasih job, boleh nggak artikelnya ditulis ulang. Biasanya mereka ngebolehin yang penting dapat backlink.

  7. Fix saya gak cokcok daftar campaign beauty blogger setelah baca ini mba, bahasannya lengkap.

    1. Kenapa mba? Apa karena blognya mba lebih banyak bahas lifestyle kah?

  8. Intinya jika ingin di lirik brand untuk kerjasama adalah konsisten untuk update konten.

    1. Betul, kalo blognya gersang, brand juga ragu2 mau ajak kerjasama hehehe

  9. tengkiyu pencerahannya mbak mel, personal branding perlu juga setidaknya.

  10. Materinya daging semua nih Mba, kereeennn.
    Mengenai produk yang dijual kembali, saya sering liat tuh di IG, sebenarnya alasannya karena dia terlalu banyak punya produk tersebut.

    Cuman memang timingnya kurang beretika aja rasanya.
    Kadang hari ini direview dengan lebay, eh besoknya dijual hahahaha.

    Tapi memang itu tergantung personal sih.
    Kalau saya biasanya saya kasih ke orang lain, atau dibikin GA πŸ™‚
    Itupun memang sebaiknya kasih jeda πŸ™‚

    Mengenai harga produk, saya rasa kalaupun kita tidak setuju, sebaiknya nggak usah dibahas, atau dibahas di kekurangan produk misalnya, dengan dikasih keterangan, misal : kekurangan, to pricey bagi kantong saya, meskipun sebenarnya sesuai dengan kualitasnya.
    Tapi itu kalau saya sih hihihi.

    Dan rate card, ini sepertinya susah karena nggak ada patokannya.
    Karena kita para blogger menjual jasa, tentunya masing-masing punya alasan sendiri memberikan harga atas jasanya πŸ™‚

    Tapi serius, dapat banyak ilmu lagi melalui tulisan ini, makasih udah berbagi πŸ™‚

    1. Oh iya Mba, url blognya di akun blogger kayaknya belum diganti tuh Mba, kemaren saya masuk dari sana error mulu.
      ternyata di akun itu pakai dot id, sementara ini ternyata dot com πŸ™‚

      1. Ohya? Masa sih .id ya? Perasaan aku masukinnya .com. thanks for reminding mba.

    2. Iya. Aku sih ga sampai hati preloved barang endorsan. Ga enak ketauan brandnya. Wkwkwk. Kalo giveaway kalo bekas aku pake jg ga enak. Kecuali dpt lebih dan yg satunya masih baru. Biasanya aku bagi2 ke sodara krn ga mungkin juga kepake semua. Tp yg direview beneran jujur sih. Ga dilebay2in. Thanks for coming mba πŸ™

  11. nah ini yang sulit. buat konsisten satu tema. blog aku masih campur. pengen konsisten tapi sayang juga kalau blog lama tanpa entri baru, nyoba produk baru kan gak sim salabim. salam kenal mama cantik

  12. Setuju kak…
    Sama ketepatan waktu siih.. Kerasa banget kalau freelancer dituntut untuk tepat waktu dalam menjalankan proyek-proyek mereka. Dan bisa memuaskan klien untuk branding produk mereka.

    1. iya ya, reputasi freelancer dipengaruhin banget sama ketepatan waktu dan kualitas kerja. Terlambat dikit aja deh, bisa bikin orang mikir 2x mau pakai kita lagi.

  13. Harus semangat untuk perbaiki konten dan juga cara penulian kita agar dilir ya mba

    1. iya kak, sebenarnya untuk semua profesi juga harus mau selalu belajar ya kak, karena zaman berubah. kalo kita ga bisa ikutin, kita yang punah hehehe

  14. betul. cocok di kita ajah belum tentu cocok di orang lain. setidaknya dg sebutkan kita jenis kulit apa dan warnanya gimana jd yg sama dg kita bs dapatkan ekspektasi yg sesuai

    1. betul, pembaca juga jadi ga rancu dan merasa bakal cocok juga padahal jenis kulit si blogger dan pembacanya berbeda.

  15. Terima kasih kak Mels, banyak banget yang bisa dipetik dari postingan ini
    aku juga masih banyak belajar untuk bisa jadi blogger yang handal ehhehe
    Semangat ngeblog

    1. sama2 kak, mari tetap semangat ngeblog kuy!

  16. Beauty bloger biasanya lbh konsisten mempertahankan niche kalau kuperhatikan. Pdhl, jadi beauty blogger menurutku gak mudah. Soalnya nyobain skincare, kosmetik gtu kan butuh nyobain ke kulit, iya kalau cocok kalau gak, makanya kalau menurutku kudu ektra hati2 kyknya ya mbak. Personal branding penting banget supaya gampang dikenali, juga menjaga hubungan baik dengan brand/ agensi.

    1. hehehe… memang sih kalo udah nyemplung ke beauty blog sebaiknya dipertahankan karena ketika beauty brand mau hire juga mereka pasti akan lihat jam terbang si blogger. kalo topiknya terlalu general, brand khawatir ga tepat sasaran jadinya.

  17. Hehehe sedikit memang brand yang diwakilkan PIC Cerdas kaya gini. Memang bener banget itu semua balik ke KPI! Semangat teman teman blogger

    1. pernah pengalaman ketemu PIC yang kayak gitu ya? hehehe

  18. pembahasannya menarik banget beb dan aku setuju banget sama point-point saat kerjasama bareng brand

    1. yup, jadi yang mau serius menjadikan blogger as profesion bisa baca ini dan belajar gimana biar bisa dipercaya sama brand.

  19. Aku ketinggalan ngopcan kemarin padahal pembahasannya menarik banget. Untungnya udh pada share artikelnya jd bisa dipelajari juga nih kak hehe

    1. yes. aku langsung daftar begitu baca pengumumannya dan as expected, pas sesinya seru banget lho πŸ˜€

  20. Menurutku konten itu jadi penting banget untuk sebuah blogger. Jdi nggak sekedar nulis aja. Ini yang jadi point penting juga

    1. yap. sejak jadi blogger, banyak banget ilmu baru yang aku pelajarin di luar sekadar nulis. sekarang lagi belajar supaya bisa present foto yang bagus juga

  21. waaah aku kmrn mau ikutan ngopi cantik ini tapi ga sempet, untung ada kamu yg ngerekap isinya hehee thanks mels

    1. masama ci. wah sayang banget kelewat padahal topiknya lagi seru bingit hehehe… thanks juga udah baca ci

  22. nulisnya enak banget buat dibaca mba Mels, aku kebetulan blogger baru ilmu ini sangat bermanfaat niy buat aku, belajar banyak hal bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus, selama ini aku karena ga ngejar apa-apa dan isi waktu luang kadang nulis suka sesukanya, ok setelah ini mulai terkonsep niy siapa tahu kedepannya ada manfaatnya, menarik sekali

    1. Awal-awal ngeblog aku juga gitu kak. asal nulis yang penting ini blog gak jamuran wkwkwk… tapi lama2 merasa sayang banget punya blog tp gitu2 aja. akhirnya diseriusin dan terus belajar buat improve. yuk, tetap semangat ngeblog ya kak.

  23. setuju banget nih beb sama point point nyaaa, personal branding salah satu yang penting dimiliki blogger yaaa, hihihi

    1. iya, kalo personal brandingnya nggak jelas nanti brand juga bingung mau ajak kerjasama yak hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me!
error: Do not copy! Please share the link instead. Thanks!
%d bloggers like this: