Blog vs Youtube dan Kenapa Tetap Memilih Jadi Blogger? – Part 1

blog vs youtube

Blog vs Youtube. Sekarang ini media digital sedang berkembang pesat-pesatnya. Jika 2 dekade lalu blog menjadi primadona, kini platform konten berbasis video seperti Youtube sedang naik daun. Tapi, kenapa saya tetap memilih jadi blogger?

Sebenarnya saya sendiri juga punya kok akun di Youtube tapi hanya sekadarnya, tidak diseriusi seperti blog ini. Bikin video biasanya karena request klien atau sedang ingin saja. Sebelum lanjut ke alasan kenapa tetap memilih jadi blogger, saya jelaskan dulu kenapa memilih Youtube sebagai perbandingannya.

Blog dan Youtube menurut saya merupakan sarana yang memungkinkan penggunanya membuat konten berbobot dan bisa berdurasi panjang. Meski kini banyak media sosial dimana kita bisa memuat konten video seperti Instagram dan Tiktok, durasinya terbatas hanya 1 menit. Selain itu paling yang bisa disandingkan adalah IGTV yang durasinya bisa hingga 1 jam. Namun tetap saja tidak bisa sepanjang Youtube dan menurut saya popularitasnya masih di bawah Youtube.

Next, inilah alasan kenapa saya tetap memilih jadi blogger ketimbang youtuber.

Lebih menjiwai passion menulis blog

Bisa dibilang sejak SMP saya sudah mulai menyukai dunia penulisan, dimulai dari menulis buku diary. Lalu saat SMA mulai suka menulis cerpen iseng di sebuah buku. Ada yang selesai dan ada yang tidak juga karena sudah nggak mood. Kemudian ketika kuliah di jurusan komunikasi pemasaran, salah satu dosen mengenalkan tentang blog dan dijadikan tugas bagi mahasiswa. Dari sanalah saya berkenalan dengan blog dan mulai tertarik untuk menggali lebih dalam.

Baca juga: It Started with A “Why”

Ketika tahu tentang Youtube, awal-awal saya masih merasa biasa saja. Saat monetasi Youtube mulai tenar, saya jadi ikut penasaran dan akhirnya ingin menjajal kemampuan. Sayangnya setelah beberapa bulan mencoba, saya akhirnya memutuskan untuk tetap fokus di blog saja. Kenapa? Lanjut ke bawah ini.

Proses pengerjaan blog vs youtube

blog vs youtube

Yes, saya menyadari bahwa untuk membuat konten video yang menarik dan berkualitas membutuhkan effort yang tidak sedikit. Oke deh nggak usah bilang soal kualitas, proses pembuatan video dasar saja menurut saya cukup menguras waktu dan tenaga. Apalagi saya masih harus mengurus anak dan rumah tangga. Secara garis besar, proses pembuatan 1 video kira-kira sebagai berikut:

Research ➡️ scripting ➡️ shooting plan ➡️ recording ➡️ editing ➡️ insert song or backsound ➡️ publish

Setidaknya untuk satu video entah panjang atau pendek prosesnya harus melewati itu semua. Setidaknya membutuhkan waktu 3-7 hari sampai video benar-benar selesai dan diunggah.

Belum lagi saya nggak punya dedicated studio sehingga tiap kali mau syuting harus set-up kamera dan lighting (bongkar pasang). Tantangan lain adalah ketika anak terbangun di tengah syuting berlangsung. Duh, bisa buyar langsung mood saya 😅.

Berbeda dengan blog, yang berdasarkan pengalaman saya, durasi pengerjaannya jauh lebih ringkas daripada video. Waktu yang dibutuhkan untuk membuat 1 artikel blog setidaknya 2-3 hari saja, sudah termasuk proses sebagai berikut:

Research ➡️ drafting ➡️ insert image/ taking photos ➡️ editing ➡️ publish

Proses kerja di atas baik untuk blog dan youtube tidak termasuk lama approval dan revisi dari klien ya, serta tergantung sama topik yang diangkat butuh riset panjang atau tidak. Pure untuk menelurkan 1 konten terlebih dahulu.

Selain itu saat mengerjakan blog, saya merasa waktunya lebih managable dan tidak terlalu mempengaruhi mood kalau-kalau anak terbangun di tengah saya drafting. Lha ya kalau lagi bikin video makeup terus baru separuh jadi dan anak bangun kan gimana gitu ya rasanya. Greget.

Perbedaan modal blog vs youtube

Tak ada usaha yang nggak butuh modal sekalipun usaha bikin konten. Sebagai awal permulaan memang kita bisa mulai dengan sarana seadanya. Namun, jika kita memang mau menyeriusi bidang ini dan mendapatkan penghasilan, tentunya perlahan-lahan kita harus upgrade dong. Ya kan?

Modal membuat video Youtube

Nah, menurut saya modal yang dibutuhkan untuk Youtube lebih besar daripada modal memelihara blog. Alat dasar yang dibutuhkan untuk Youtube kurang lebih sebagai berikut:

1. Lighting

Pencahayaan merupakan unsur penting dalam pembuatan video. Menonton konten video dengan cahaya terang pastinya lebih nyaman daripada yang gelap kan? Memang kita bisa mengandalkan cahaya matahari jika memungkinkan. Tapi, kalau ruangan kita kurang terpapar matahari, tentunya kita membutuhkan lighting tambahan.

2. Kamera

Kamera HP sekarang memang sudah canggih-canggih dan kita bisa mendapatkan kamera HP berkualitas tinggi dengan harga yang relatif terjangkau. Jika HP yang kita miliki resolusinya belum cukup baik, suatu hari kita juga perlu upgrade.

Banyak Youtuber yang menggunakan kamera profesional agar menghasilkan kualitas gambar video yang lebih tajam dan jernih. Mau seperti mereka? Modalnya tentu akan lebih besar lagi.

3. Background

Ini juga merupakan salah satu faktor estetika yang cukup penting. Kondisi latar juga turut mempengaruhi kenyamanan audience saat menonton sebuah konten. Solusi paling mudah dan murah adalah jika kita punya tembok polos yang bisa dijadikan sebagai latar.

4. Mikrofon

Salah satu elemen penting selain kualitas gambar adalah kejernihan suara. Mikrofon yang bagus memegang peranan penting apakah audience bisa mendengar suara kita dengan jelas atau tidak?

Mengenai modal dasar untuk memproduksi video ini pernah dibahas oleh teman Youtuber saya, Sylvia Yacobus di channel-nya. Buat kawan Mel’s Playroom yang mau tahu lebih jelas, silakan nonton videonya di sini. Dari videonya, budget paling dasar untuk membuat video yang nyaman ditonton setidaknya membutuhkan dana sekitar Rp 2,5 juta rupiah.

blog vs youtube

Modal membuat blog profesional

Sementara itu, modal untuk membuat blog profesional kurang lebih sebagai berikut:

1. Domain

Untuk menjadi blogger profesional tentulah kita harus punya domain sendiri, bukan yang berakhiran blogspot.com atau wordpress.com. Karena kalau blog kita sudah TLD (istilahnya), maka blog kita bisa diukur dengan jelas kesuksesannya. Indikator paling umum adalah bisa dipasangkan tools Google Analytics dan kemudian mengukur domain authority dan page authority. Tingkat lanjut adalah alexa dan google page rank. Data tersebut hanya bisa kita peroleh jika sudah punya TLD.

Lalu, berapa modal yang dibutuhkan untuk membeli domain? Untuk domain saya yang berakhiran .com membutuhkan biaya kurang dari 150 ribu dan hanya dibayar tahunan. Murah banget kan?

2. Hosting

Yang agak berat dari mengelola blog adalah membayar sewa hostingnya. Ini juga faktor yang membuat saya menunggu hingga 7 tahun sebelum memutuskan menyewa self hosting. Saat ini saya menggunakan Plesk Panel untuk wordpress dari Rumahweb dan bisa dibayar bulanan. Soalnya rata-rata hosting provider meminta bayaran setahun di muka. Jika dana kita terbatas, pastinya akan lumayan membebani.

Saya pilih Plesk Panel ini juga karena biayanya relatif lebih murah dan kapasitas storage-nya bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Bila perlu upgrade, sudah disediakan pula sarananya. Biaya untuk Plesk Panel 1 GB hanya seharga Rp 25.000 per bulan belum termasuk PPN 10%.

Sebelum migrasi ke self hosting, saya sudah memiliki TLD dulu namun platformnya masih memakai wordpress.com. Istilahnya domain mapping, dimana domain melsplayroom.com saya akan refer ke domain kamarmelissa.wordpress.com. Semacam pakai alias gitu deh.

Saran saya, pakailah hosting pribadi ini kalau memang sudah mantap menyeriusi dunia blogging. Kalau masih coba-coba lebih baik gunakan yang serba gratis saja dulu. Konsekuensinya ya pilihan job yang terbatas.

3. Template blog

Agar pengunjung betah berlama-lama, sebagai tuan rumah kita perlu menyediakan “ruangan” yang nyaman dong ya. Nyaman dengan tata letak yang sederhana dan tidak terkesan ramai, nyaman diakses (responsif dan nggak lola), dan nyaman dipandang dari segi estetika & pemilihan warna yang digunakan.

Template blog sendiri banyak tersedia versi gratis baik yang berbasis blogspot maupun wordpress. Namun biasanya, fitur yang diberikan nggak se-wah template berbayar. Template ini pilihan sih, saya sendiri juga masih pakai yang gratisan dan merasa cukup untuk kondisi sekarang.

4. Gadget yang dipakai

Menulis blog sangatlah mudah dan murah karena bisa kita lakukan dari smartphone apapun, selama sudah berbasis android atau iOS. Cuma kelemahannya mengetik dari HP ya pasti jempolnya keriting, apalagi kalau artikelnya lumayan panjang.

Solusi selain HP, kita bisa menggunakan gagdet berupa tablet atau laptop atau PC yang bisa tersambung dengan internet. Apa adanya banget kan?

5. Lokasi kerja

Karena kita sudah memiliki mobile device, mengerjakan blog pun bisa dari mana saja dan kapan saja. Bahkan saat kita berada di transportasi umum pun sangat memungkinkan kok. Kita nggak terlalu memerlukan lokasi khusus atau dedicated spot untuk menulis blog. Yah, kecuali kalau lagi ingin suasana yang santai seperti di cafe, itu lain cerita ya.


Untuk artikel ini, saya akan bahas blog vs youtube sampai sini dulu. Sebenarnya saya ingin menuliskan semuanya dalam 1 artikel. Tapi karena sepertinya bakal jadi lebih dari 2.000 kata dan saya yakin kawan-kawan akan malas membacanya, saya akan membagi artikel ini menjadi 2 bagian. Pada bagian kedua saya akan membahas dari sisi kualitas konten, kompetisi, dan monetasi blog vs youtube. Artikelnya bisa kalian baca dengan mengklik tombol di bawah ini.

Sampai di sini kira-kira bagaimana pendapat kawan Mel’s Playroom? Apakah setuju atau mungkin ada yang tidak disetujui? Silakan berbagi pendapat dan pengalamannya ya. Anyway, thanks for reading and see you in the next post!

Melissa Tjia

Author of Mel's Playroom - Mom and Beauty Blogger.

A full time mom and a part time blogger who occasionally escape to blogging as her stress release therapy.

13 Comments

  1. kalau aku tertarik keduanya namun sekarang lebih ke blog karena praktis dan bisa langsung nulis dimana pun aku ingin 😀

  2. Aku suka blog juga sih mba, tapi akhir-akhir ini saya mulai menemukan feel nya bikin video yang sesuai selera saya. Jadi lagi belajar bikin video juga deh. Kalau bisa ingin dijalani keduanya.

  3. jangankan bikin youtube, disuruh orang bikin video di ig aja aku gemeteran loh 😦 se introvert itu.. ditambah perlu konsep dan bla bla bla. masih enakan blogging sih, soal nya konsep nulis bisa dicicil dan bisa dikerjakan di hape, baru ntar dibenerin kata-kata nya di laptop

  4. Aku aslinya suka keduanya kak Mel, tapi kalau video lama ngeditnya wkakak jadilah malas akunku mayan udah mau 1000 subscribe tapi ya itu nggak telaten ngedit. Kalau nulis enak tinggal publis

  5. You are absolutely right, making videos is not that simple at all.. I do enjoy both of them though and just try to enjoy the process

  6. Keren, kak Mels.
    Konsisten di dunia kepenulisan.
    Aku sih yakin kalau orang masih tetap membutuhkan asupan “tulisan” daripada visual bergerak. Karena aku pribadi senang berimajinasi. Kalau melalui video, semua sudah terpenuhi hingga tak bisa berimajinasi sesuai dengan keinginan kita.
    Kalau gak pas, malah kezel sendiri.

    Makanya kalau ada novel yang di filmkan, aku suka males duluan nontonnya.
    Karena ekspektasi sutradara kan profit yaa…sedangkan pembaca kan ekspektasinya memenuhi ruang imaji mereka.

  7. Aku jg kayaknya lebih prefer untuk blogging aja. Butuh percaya diri jg buat ak yg introvert ini klo mau bikin konten yt hehe

  8. Kalau aku memilih blog, ya memang keduanya pun butuh effort untuk membuat kontennya. Tapi entah gimana menurutku membuat youtube itu jauh lebih sulit dari konten blog. Mungkin karena aku gak familiar dengan aplikasi atau software yang digunakan untuk edit video.

  9. Keduanya yg pasti butuh effort. Perlu ide mau nulis atau buat konten apa, peralatan support nya dll. Kalo youtube memang editingnya yg berat ahaha

  10. Bener kak, aku juga punya akun yutub, tapi isinya palingan beberapa biji, gak begitu bisa bikin kontennya hihihi lebih menjiwai menulis blog aja

  11. kalo aku repot karena punya anak kecil, jadi pas take pasti ada aja gangguannya dan butuh seharian untuk bisa menghasilkan 1-2 video, belum lagi beberes dan lain-lain, jadi daripada ujung2nya emosi, aku pilih nulis dulu deh.

    1. Hahaha sama banget mba sama aku 😂

  12. aku juga lebih nyaman nulis blog mels, karena memang aku lebih suka nulis drpd cuap2 di depan kamera hahahaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me!
Ooops! Do not copy and share the link instead. Thanks!
%d bloggers like this: