tantangan menjadi freelancer mom
Mom's Story Motherhood

Tantangan Menjadi Freelancer Mom dengan 2 Anak

Menjadi seorang freelancer mom dengan 2 orang anak ternyata tidaklah mudah untuk dijalani. Meski kelihatannya enak karena bisa dikerjakan dri rumah, nyatanya ada segelintir tantangan tersendiri yang harus dihadapi seorang freelancer mom seperti saya. Apa dan bagaimana saya mengatasi tantangan menjadi seorang freelancer mom? Silahkan simak cerita saya berikut ini, yuk. Semoga menginspirasi.

Sepenggal kisah dibalik kelahiran si bungsu

tantangan menjadi freelancer mom
Sumber: Freepik

Tanggal 30 Oktober lalu merupakan hari yang membahagiakan sekaligus deg-degan buat saya. Ya, saya akhirnya melahirkan anak kedua melalui operasi caesar lagi. Bahagia karena putra saya bisa lahir dengan selamat dan sehat sempurna. Deg-degan karena harus masuk ruang operasi lagi, bertaruh nyawa tepat sehari sebelum ulang tahun saya. Tapi begitu melihat anak saya keluar dari perut, entah bagaimana air mata saya otomatis menetes terharu. Setelah semuanya berakhir dengan baik dan lancar, kelahiran putra saya merupakan hadiah terindah karena ia lahir tepat sehari setelah ulang tahun pernikahan dan sehari sebelum ulang tahun saya. Kado spesial dari Tuhan yang luar biasa.

Karena anak pertama saya lahir melalui operasi caesar dan jarak yang baru 2 tahun, caesar kedua pun tidak terhindarkan. Awalnya, kami berencana melahirkan si bungsu ini pada tanggal 2 November 2019. Siapa sangka di hari Rabu pagi itu saya merasakan adanya rembesan dan perut yang mengencang. Menghindari terjadinya sesuatu, segera saja saya packing perlengkapan dan dokumen yang harus dibawa ke rumah sakit. Sesudah itu, saya langsung telepon suami untuk minta ijin pulang lebih awal dan mengantar saya ke RS.

Setiba di RS, saya dibawa ke kamar bersalin untuk melakukan pengecekan oleh bidan. Saat dicek menggunakan congor bebek yang rasanya lumayan sakit yah, rupanya rembesan yang saya rasakan itu bukan berasal dari air ketuban, tapi adanya keputihan. Tapi… bidan juga melihat sepertinya ada tanda-tanda pembukaan dan kemudian lanjut cek dalam. Yeah, moms yang pernah melahirkan pasti tahu rasanya ya (ketawa nangis). Hasil cek dalam bidan berkata bahwa saya sudah bukaan 2! Okay, jadilah saya menetap di RS dan mengurus prosedur operasi caesar saat itu juga. Hmm, sepertinya si bungsu ini memang nggak mau ketinggalan tim Oktober bersama saya dan kakaknya hehehe…

Menjalani Caesar Kedua

Singkat cerita, sekitar jam 3 sore, ruang operasi sudah siap dan saya dibawa ke dalamnya, menjalani prosedur anestesi yang anehnya di kali kedua ini memberi efek sakit kepala dan ketika saya mengeluhkannya, dokter anestesi cuma suruh bertahan. Asem! Jadilah dari mulai operasi berjalan hingga dibawa ke ruang pemulihan saya menahan rasa sakit itu. Padahal dulu yang pertama tidak bikin sakit kepala, tapi bikin saya nge-fly dan menggigil setelah operasi selesai.

Ketika berada di ruang pemulihan, saya sudah setengah sadar digantikan baju oleh suster dan berbincang sedikit dengan suami yang sudah menunggu sambil mengawasi anak kami dihangatkan. Sesudahnya, blas saya tertidur entah berapa jam.

Baca juga: Pertama Kali Operasi Caesar

Perbedaan lain yang saya rasakan di caesar kedua ini, selain efek anestesi yang menyakitkan kepala, adalah efek jahitan yang sakitnya 2x lipat dari yang pertama. Sewaktu melahirkan si sulung, 1 x 24 jam pasca operasi saya sudah bisa belajar duduk dan berjalan sedikit dengan rasa nyeri yang masih sanggup saya tahan. Namun di caesar kedua ini, saya harus menunggu 2 x 24 jam hanya untuk bisa duduk. Untuk miring kanan dan kiri saat menyusui juga harus menahan sakit yang lumayan. Berjalan? Jangan harap! Turun dari ranjang saja tidak mampu hingga saya harus pipis pakai pispot. Untung nggak sampai harus BAB di pispot. Perihnya bukan main walau dokter sudah memberikan obat anti nyeri khusus karena saya punya alergi obat. Apa moms yang pernah caesar 2x juga mengalami hal yang sama?

Tantangan menjadi freelancer mom dengan 2 anak dimulai

Sepulang dari RS, babak baru kehidupan rumah tangga saya pun dimulai. Saya harus beradaptasi dengan jam biologis si bungsu untuk menyusui, memulihkan diri, memikirkan deadline pekerjaan freelance, dan mengurus si sulung. Beruntungnya saya masih dibantu sama mama mertua untuk lebih banyak mengasuh yang sulung dan suami cuti seminggu untuk turut membantu.

Untungnya lagi, anak pertama saya tidak menunjukkan tanda-tanda jealous akan kehadiran adik barunya. Malah dia menunjukkan perhatian dan rasa sayangnya sama si adik. Misalnya ketika adiknya menangis dia mencoba sebisanya untuk menenangkan, ya walau caranya bikin kita orang dewasa agak ngeri karena dia grepe-grepe wajah adiknya. Kita tentunya sedikit khawatir dong dia kebablasan dan malah menyakiti adik bayinya. Hehehe… Contoh lain ketika adiknya menangis, dia segera menarik saya untuk mengurus adiknya.

Tapi tetap saja, anak pertama saya justru sekarang jadi lebih manja sama saya. Mungkin ada rasa kangen karena sudah ditinggal 4 hari di RS, pas pulang saya juga belum bisa leluasa bermain dengannya karena nyeri jahitan. Selain itu terkadang di sela-sela adiknya tidur, saya harus mencuri waktu menyelesaikan pekerjaan freelance yang sudah menanti. Inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi sebagai freelancer mom yang bekerja dari rumah. Tidak ada cuti khusus walau sebelumnya sudah izin akan melahirkan dan meminta perpanjangan waktu. But work is work and it needs to be done.

Baca juga: Dapatkan Penghasilan Tambahan bersama Accurate Digital Partner

Setelah seminggu lebih menyandang status ibu 2 anak, saya menyadari tantangan terbesar menjadi seorang freelancer mom adalah manajemen waktu. Sebagai ibu dan freelancer, keduanya membutuhkan 100% waktu dan fokus. Tidak bisa dilakukan secara multitasking. Saya harus pintar-pintar mengatur waktu antara memenuhi kebutuhan anak dan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Di sinilah menurut saya peran support system seperti suami dan keluarga sangat penting. Ketika saya harus menyelesaikan pekerjaan, saya akan meminta bantuan suami ketika sudah pulang kantor atau mertua untuk handle anak saya sementara saya bekerja.

Sebelum si bungsu lahir, tantangan menjadi freelancer mom juga sudah saya rasakan. Sejak akhir tahun 2018 saya kembali aktif menjadi blogger dan kini menjadi freelance content writer di salah satu perusahaan swasta terkemuka di Indonesia. Untuk menyelesaikan pekerjaan, tak jarang saya harus mengungsi ke cafe agar bisa fokus, sementara anak pertama saya di-handle sama mertua dulu. Kenapa tidak dilakukan di rumah? Karena kalau di rumah, anak pertama saya pasti bawaannya mau ajak saya main terus, sementara deadline mendekat. Mau tidak mau saya harus meluangkan waktu 1 hari khusus menyelesaikan pekerjaan. Sepulang dari “pengungsian” baru deh saya menghabiskan waktu bermain bersama anak.

Kini, setelah punya 2 anak rasanya bakal agak sulit untuk “mengungsi”. Sekarang ini si orok masih makan dan tidur saja, dimana saya masih memiliki sedikit kebebasan waktu dan yang sulung mau nggak mau jadi lebih sering bersama kakek-neneknya diajak ke toko. Bagaimana kelak ketika si bungsu juga sudah mulai aktif bergerak? Hahaha… Mungkin pada saatnya nanti akan ada cara bagaimana saya harus mengakali waktu.

Jadi, tidak ada pekerjaan yang 100% enak bukan? Bahkan yang kelihatannya nyaman bisa bekerja dari rumah dan punya waktu fleksibel, nyatanya juga punya tantangan sendiri. Setiap pilihan ada konsekuensi masing-masing, sekalipun bagi yang memilih menjadi full time mom. Maka dari itu, saya pribadi tidak suka menghakimi pilihan pekerjaan seseorang setelah punya anak. Entah dia memilih tetap berkarir atau jadi IRT atau jadi freelancer mom seperti saya, mereka pasti sudah mempertimbangkan konsekuensinya bahwa akan ada hal-hal yang harus dikorbankan dari setiap pilihan yang dibuat.

Baca juga: Working Mom, Full Time Mom, or Independent Mom, Which Team Are You?

Jika teman-teman ada yang tertarik untuk mencoba kehidupan sebagai freelancer mom, mungkin sedikit ringkasan berikut bisa menjadi bahan pertimbangan.

PlusMinus
Bisa dikerjakan dari rumah/ mobileMembagi waktu merupakan tantangan
Punya waktu yang fleksibelPenghasilan tidak stabil setiap bulannya
Tidak terikat pada jam kantorTidak ada cuti khusus melahirkan
Tidak ada office politicTidak ada jaminan perlindungan dari perusahaan selain dari kantor suami
Bebas datang ke berbagai event untuk menambah pengalamanHarus proaktif dalam mencari job baru
Bisa bertemu banyak orang baru untuk menambah networking

Nah, itu dia plus minus dari pekerjaan sebagai freelancer mom yang saya rasakan. Kalau ada juga moms yang senasib dengan saya dan punya pendapat tambahan tentang pekerjaan ini, monggo sharing di kolom komentar. I’ll appreciate that!

Thanks for reading and see you in the next post!

Melissa Tjia

Author of Mel's Playroom - Mom and Beauty Blogger.

A full time mom and a part time blogger who occasionally escape to blogging as her stress release therapy.

You may also like...

22 Comments

  1. aku ngerasain bangetttt mba, cesar kedua itu 2x lbh sakit :(. yg pertama akh jg fine aja abis operasi. apalagi dokter ksh obat pereda sakit melalui infus, selama 2 hr. jd ga terlalu sakit. tp yg kedua ini ampuuuun, ga mempan. sampe sempet nangis :(. katanya sih krn luka lamanya dibuka lg, makanya lbh sakit. ntah lah yaaa. Untung udh g ada plan nambah anak lagi wkwkwkw

    thn depan aku plan resign nih. makanya pgn fokus kalo bisa kerja yg dr rumah aja. tp berarti aku bener2 hrs belajar time mgt nya dr skr biar g keteteran dll 🙂

    1. iya kan yg kedua sakitnya bukan main 🙁 bikin kapok dan ga pengen ada yg ketiga ahhahaha.. Udah 2 mending sekarang fokus kumpulin duit aja ya 😀

  2. Ups and downs pasti ada ya… Btw aku dulu juga sesar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *