Tips Mengelola Keuangan a la Freelancer

woman holding fan of dollar bills

Menjadi seorang full-time blogger bisa dibilang sama dengan menjalani profesi sebagai freelancer, yang identik dengan penghasilan tidak tetap setiap bulannya. Untuk mengaturnya setiap bulan, kita perlu pintar-pintar menyiasatinya. Bagaimana tips mengelola keuangan sebagai freelancer supaya kita nggak boncos di akhir bulan?

Ihwal bagaimana saya akhirnya menjadi full-time blogger sebelumnya sudah pernah diceritakan dalam artikel Kenapa Memilih Jadi Blogger bagian 1 dan bagian 2. Selain tantangan manajemen waktu, mengelola pemasukan setiap bulan juga menjadi tantangan tersendiri. Sensasi mengatur keuangannya jelas beda dibanding ketika saya menjadi pegawai kantoran yang dulu berpenghasilan tetap setiap bulannya.

Meski kebutuhan pokok hidup saya kini ditanggung suami, bukan berarti saya bisa foya-foya begitu mendapat fee kan? Justru saya harus lebih giat menabung supaya bisa menjadi back-up penghasilan suami. Setuju buibu?

Berdasarkan pengalaman tersebut dan dari hasil uji pribadi yang belum tentu sahih , saya ingin berbagi sedikit tips mengelola keuangan sebagai freelancer. Barangkali bisa menambah inspirasi rekan-rekan sesama freelancer yang masih bingung dalam mengelola keuangannya. Jika tertarik, silakan lanjut scroll ke bawah.

Disclaimer: Artikel ini bukan artikel sponsor, tapi mungkin mengandung tautan afiliasi.

1. Save first, spend last

Tips mengelola keuangan yang pertama adalah dengan menanamkan filosofi save first, spend last. Ini adalah langkah awal untuk mendisiplinkan diri agar mengutamakan tabungan sebelum jajan. Begitu mendapatkan pemasukan, langsung utamakan untuk ditabung dulu sebelum dijajanin. Kalau tekad ini lemah, wah sulit deh.

Gimana caranya kita bisa menentukan jumlah yang mau ditabung kalau penghasilannya saja nggak pasti?

2. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran tetap bulanan

Tahap ini penting supaya kita bisa mengetahui rata-rata pendapatan bulanan yang didapatkan dari hasil bayaran project. Pengeluaran tetap (di luar jajan-jajan kecil tapi sering) juga perlu dicatat agar kita tahu berapa sih biaya wajib yang harus kita keluarkan setiap bulannya. Misal, tagihan air, listrik, kartu kredit, pulsa, internet, dan sejenisnya.

tips mengelola keuangan freelancer

Nah, untuk melakukan pencatatan ini kita bisa menggunakan planner atau aplikasi pencatat keuangan. Kalau saya memakai aplikasi Catatan Keuangan karena nggak perlu login akun apapun sehingga aman dari kemungkinan hacker yang kepo sama finansial kita. Meski demikian, setiap kali kita mau buka aplikasi, kita tetap harus memasukkan PIN atau sidik jari sebelum bisa mengaksesnya. Perihal keamanan data atau untuk backup, mereka juga menyediakan beberapa opsi yang bisa kita pilih.

Baca juga: Manfaat Planner untuk Seorang Blogger

3. Tentukan nilai tabungan bulanan

Dari hasil pencatatan tersebut, kita bisa menghitung berapa yang bisa kita tabung setiap bulannya setelah dikurangi pengeluaran tetap. Lalu dengan menganut prinsip nomor 1 tadi, yang harus kita tekan justru adalah pengeluaran yang bersifat impulsif, seperti jajan-jajan kecil tapi sering tadi atau FOMO flash sale dan sejenisnya.

Berdasarkan informasi yang pernah saya dapat ketika menghadiri acara literasi keuangan, berikut ini skema yang pas dalam mengelola keuangan pribadi:

  • 40% untuk biaya hidup
  • 30% untuk cicilan jika ada
  • 20% untuk tabungan masa depan
  • 10% untuk dana darurat/ asuransi/ investasi/ amal

Kalau saya lebih suka memisahkan rekening untuk tabungan dan operasional supaya nggak bercampur dan berpotensi memakai uang tabungan.

4. Belajar investasi kecil-kecilan

Kalau kita sudah punya tabungan yang cukup dan masih ada dana lebih, nggak ada salahnya untuk belajar investasi kecil-kecilan sebagai tabungan jangka panjang. Misalnya dengan memiliki tabungan deposito atau investasi reksadana. Sekarang ini sudah banyak platform investasi berbasis digital yang bisa kita gunakan sebagai sarana belajar investasi bagi pemula. Contohnya aplikasi Bibit.

tips mengelola keuangan freelancer
Courtesy: blog.bibit.id

Saya juga merupakan pengguna pemula di Bibit. Berawal dari rasa penasaran dengan iklan Bibit di berbagai platform media sosial, ditambah keinginan untuk mulai belajar investasi juga. Sebelum memutuskan mendaftar di Bibit, saya juga melakukan riset dulu perbandingannya dengan aplikasi sejenis. Salah satu referensi artikel yang saya baca adalah dari blog Catatan Oline milik Kak Caroline Adenan. Dalam artikelnya tersebut, Kak Oline mengupas tuntas perbandingan Bareksa, Bibit, dan Ajaib yang bisa kita jadikan bahan pertimbangan. Ketiganya merupakan aplikasi investasi yang sedang ramai diperbincangkan.

Beberapa poin yang membuat saya akhirnya memutuskan mendaftar di Bibit adalah:

  • Modal awal investasi yang relatif murah, bisa mulai dari Rp 100.000,- saja.
  • Adanya fitur analisa profil risiko calon investor (kita) yang harus kita isi di awal pendaftaran. Dari profil risiko yang didapatkan, manajer Robo Bibit akan merekomendasikan jenis-jenis reksadana yang cocok dengan profil kita tersebut. Kita diberi kebebasan memilih untuk ikut rekomendasi Robo tersebut atau pilihan manual apabila kita sudah paham cara main reksadana.
  • Fitur top-up yang mudah karena bisa menggunakan dompet elektronik atau transfer langsung via BCA.
  • Hingga saat ini masih bebas biaya administrasi jual-beli reksadana.
  • Sudah terdaftar dan diawasi OJK.
  • Dana yang masuk disimpan dan dikelola oleh bank kustodian, bukan masuk ke rekening Bibit.

Jadi, amit-amit terjadi hal yang tidak diinginkan dengan aplikasi Bibit, dana kita masih tersimpan dengan aman di bank kustodian tersebut.

Karena saya masih pemula, saya juga masih belajar dan belum bisa bercerita lebih banyak tentang Bibit. Tapi jika kalian tertarik mendaftar di Bibit, kalian bisa pakai referral code bibitmels saat pendaftaran dan mendapatkan cashback senilai Rp 25.000,-. Cashback tersebut nantinya bisa digunakan sebagai tambahan modal awal investasi.

Harap diingat ya, jangan langsung menyemplungkan semua dana tabungan kita untuk investasi. Kita juga perlu dana cair yang siap siaga di rekening untuk keperluan darurat.

Kenapa saya menyarankan investasi?

Karena pekerjaan sebagai freelancer ini penuh ketidakpastian. Entah sampai kapan akan bertahan, tidak ada yang tahu juga. Jadi, nggak ada salahnya menyiapkan rencana cadangan yang bisa tetap mengamankan kondisi keuangan kalau-kalau suatu hari harus beralih profesi lagi.

Baca juga: Alasan Wanita Sebaiknya Tetap Mandiri Secara Finansial

Investasi produk keuangan saat ini menjadi salah satu jalan yang relatif aman, mudah dipelajari, modal ringan, dan terukur ketimbang investasi bisnis yang berisiko lebih tinggi. Tapi tetap diperlukan kehati-hatian sebelum mengambil keputusan. Dari semua tips mengelola keuangan a la freelancer, saya rasa belajar investasi merupakan tips yang paling menguntungkan.

5. Hilangkan prinsip YOLO dan FOMO

Jujur sih, sebagai wanita saya juga sempat berada di fase hidup dengan prinsip YOLO dan FOMO, apalagi kalau sudah dengar kata ‘promo’. Kedua prinsip hidup ini bisa jadi bibit penyakit dalam proses pengelolaan keuangan kalau kita nggak bisa menahan diri. Adaaaa saat-saat dimana sesekali kita bisa melakukan hal yang bersifat YOLO dan FOMO ini asal jangan berlebihan.

Sejak menjadi seorang ibu dan berpenghasilan tidak tetap seperti ini, mendorong saya untuk lebih berpikir tentang mengamankan keuangan. Saya dan suami masih sama-sama berjuang menuju mapan. Memiliki cita-cita bisa membeli rumah sendiri dan memberi pendidikan terbaik buat anak-anak. Dari sini, saya belajar untuk benar-benar membedakan mana kebutuhan vs keinginan sesaat. Belajar lebih bijak dalam mengelola keuangan dan menentukan skala prioritas.

Sekian dulu tips mengelola keuangan a la freelancer yang bisa saya sampaikan berdasarkan pengalaman pribadi. Apakah cukup membantu atau kawan-kawan punya metode sendiri soal mengatur keuangan?

Melissa Tjia

Born in 1988 and currently living as a wife and mom of a couple of kids. Been blogging since 2012 and have collaborated with numerous brands from various industries. In 2018, decided to be a full-time blogger while nursing kids at home. For inquiries please contact hello@melsplayroom.com. Follow my Instagram and Twitter account @melsplayroom for more skincare updates. Let's be friends!

14 Comments

  1. Saking parnonya banyak pengeluaran kecil yg ga terkontrol, bulan ini saya bikin daftar pengeluaran dengan sangat detail setiap hari. Semoga strategi ini sukses mengendalikan latte factor.hahaha..

  2. Kalau ngobrolin masalah keuangan..pasti aku butuh banget tulisan yang penuh gizi begini.
    Dan kuncinya memang harus konsisten juga ketat dalam pencatatan dan memilah antara kebutuhan dan keinginan.
    Gak lupa untuk invest, biar sedikit tapi terus dilakukan.

  3. Terus terang aku belum tertib melakukan pencatatan nih, masih suka lupa detail transaksi harian. Kalo soal investasi aku memilih investasi emas sih.

  4. Ci terima kasi kiat2nya bisa menginspirasi aku untuk menerepkan save first, spend later..
    Dan btw aku juga sudah ikut Bibit juga lumayan menyisihkan 100-200 dari gaji setiap bulannya

  5. thanks for all the tips and tricks mbaaa.. aku walaupun bukan freelancer tapi prinsipnya sama disiplinnya ya

  6. tipsnya bener-bener bermanfaat kak buat saya yang masih freelancer kerjaannya, bisa saya terapin niy mba Mels, apalagi jangan kegiur kalau ada promo ya hahah ini niy yang susah

  7. wah keren banget pemaparannya, tips mengelola keuangan ala freelancer biar tetap ada tabungan dan investasi

  8. tips dan infonya ini sangat bermanfaat mbak, aku catat nih soalnya menuju jadi fulltime blogger juga nih sepertinya mau resign kerja

  9. Konsisten mencatat pengeluaran tiap hari itu emang kudu banget ya, wajib supaya gak ada yg namanya bocor halus ya.

  10. Halo, kak. Terima kasih sudah membagikan tips mengelola keuangan untuk freelancer. Aku pun sedang berusaha berlatih untuk mencatat pemasukan dan pengeluaran sejak akhir tahun 2020. Aku pun kadang merasa sedih banget kalau tergoda promo diskon belanja online.

  11. Wah, pas banget nih artikelnya. Semoga bisa diterapkan.

  12. Ga terlalu jauh Ama cara mba, akupun begitu juga mengelola keuanganku mba. Apalagi sejak resign, aku hrs LBH disiplin ngatur keuangan. Keperluan sehari2 dan uang jajanku sih, ttp suami yg penuhin, tapi grow the money itu tugasku :D. Apalagi Krn background ku sblmnya di bidang keuangan dan perbankan.

    Reksadana aku juga ada, walopun porsinya ga besar. Tp aku LBH suka beli dr Bank atas rekomendasi RM ku di bank. Porsi terbesar sih di Saham dan Logam mulia. Jd setiap bulan, dpt uang dr suami, yaa aku puter di situ. Aku punya target bulanan profit dr saham harus berapa. Dan itu parameter aku achieve target ato ga.

    1. Makasih sharing pengalamannya kak. Aku jg tertarik sama saham tp mau belajar2 dulu. Belum berani nyebur hehee. Kalo kakak uda ada bground keuangan emg jdnya lbh mudah ya kelola keuangan RT-nya ??

  13. makasih sharingnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow Me!
error: Do not copy! Please share the link instead. Thanks!
%d bloggers like this: